Kisah masuk Syiah seorang ulama Eropa
Diriwayatkan oleh seorang fakih (ahli fikih) Ahlulbait,
Sayyid al-Hakim, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya.



Saya bertemu, dalam perjalanan saya ke London untuk berobat, dengan seorang profesor Eropa yang memiliki spesialisasi dalam kajian agama-agama. Ia telah memeluk Islam dan kemudian menjadi penganut mazhab Syiah.
Saya pun menanyakan kepadanya apa yang mendorongnya masuk Islam dan secara khusus memilih Syiah. Ia menyebutkan dua hal:
Pertama, ia melihat bahwa ibadah salat yang terdapat dalam agama-agama lain tersebar dan terpisah-pisah dalam berbagai bentuk dan bagian.
Adapun dalam Islam, seluruh unsur ibadah itu dihimpun dalam satu amalan ibadah yang utuh, dengan struktur dan jati diri yang khas.
Kedua, prinsip “jalan tengah antara dua ekstrem”.
Dengan pengalamannya di bidang ini, ia menyadari bahwa perhatian dan penegasan terhadap prinsip jalan tengah antara dua ekstrem pada masa-masa awal tersebut, serta keterbukaan terhadap rahasia ilahi yang sangat mendalam ini, merupakan sebuah mukjizat para Imam (عليهم السلام) yang menjadi bukti atas kepemimpinan dan kekhalifahan mereka setelah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم di tengah umatnya, agar umat berpegang kepada mereka dan terpelihara dari penyimpangan dan kesesatan.
Sementara itu, pihak-pihak yang menentang mereka—baik dari kalangan kaum Muslimin maupun selain mereka—tetap berada dalam kebingungan, terombang-ambing di tengah berbagai keraguan dan kesesatan.
Feb 13 2026
Kisah masuk Syiah seorang ulama Eropa
Kisah masuk Syiah seorang ulama Eropa
Diriwayatkan oleh seorang fakih (ahli fikih) Ahlulbait,
Sayyid al-Hakim, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya.
Saya bertemu, dalam perjalanan saya ke London untuk berobat, dengan seorang profesor Eropa yang memiliki spesialisasi dalam kajian agama-agama. Ia telah memeluk Islam dan kemudian menjadi penganut mazhab Syiah.
Saya pun menanyakan kepadanya apa yang mendorongnya masuk Islam dan secara khusus memilih Syiah. Ia menyebutkan dua hal:
Pertama, ia melihat bahwa ibadah salat yang terdapat dalam agama-agama lain tersebar dan terpisah-pisah dalam berbagai bentuk dan bagian.
Adapun dalam Islam, seluruh unsur ibadah itu dihimpun dalam satu amalan ibadah yang utuh, dengan struktur dan jati diri yang khas.
Kedua, prinsip “jalan tengah antara dua ekstrem”.
Dengan pengalamannya di bidang ini, ia menyadari bahwa perhatian dan penegasan terhadap prinsip jalan tengah antara dua ekstrem pada masa-masa awal tersebut, serta keterbukaan terhadap rahasia ilahi yang sangat mendalam ini, merupakan sebuah mukjizat para Imam (عليهم السلام) yang menjadi bukti atas kepemimpinan dan kekhalifahan mereka setelah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم di tengah umatnya, agar umat berpegang kepada mereka dan terpelihara dari penyimpangan dan kesesatan.
Sementara itu, pihak-pihak yang menentang mereka—baik dari kalangan kaum Muslimin maupun selain mereka—tetap berada dalam kebingungan, terombang-ambing di tengah berbagai keraguan dan kesesatan.
By indonesian • Cerita Orang Baru Masuk Syiah 0